Cincin ini tak pernah terlepas dari jari suamiku. Sedari pertama kusematkan sampai sekitar 3 bulan yang lalu. Cincin ini tak lagi kami pakai. Karena saran dari dokter dalam pemeriksaan covid di kantor. Dokter menyarankan cincin dan jam di lepas saja. Agar dapat menyuci tangan dengan leluasa. Jadi kuman dan virus tidak bisa bersembunyi di sela-sela kulit dan cincin atau jam. Jadi sekarang tergolek di meja rias ku. Cincin dengan ukiran nama di luar dan di dalam . Mengklaim kepemilikan siapa yang mengenakannya. Lebih besar dari cincin pada umumnya. Karena di hitung dari tahun lahir kami. Jadi harus di buat secara khusus. Cincin yang menjadi syarat agar dia dapat menikahi ku. Tapi aku bersyukur karena syarat itu. Kami memiliki cincin yang unik. Tidak ada yang menyamainya.
Malam ini aku ketiduran waktu kita mendengarkan podcast bola. Ada yang bangunin. Setengah sadar aku melihat yayank cuma diem aja. Tidak biasanya Yayank membiarkan aku di ganggu saat tidur. Dari suaranya itu suara Nia. " Mama ayo bangun. " Ya udah ngumpulin nyawa terus buka mata dan duduk. " Happy mother's day, mama. " Sambil memberiku kertas. Kulihat kertas tersebut. Ternyata dia menggambar ku. Dengan secangkir kopi. "Terimakasih sayang. " Jawabku. Aku bersyukur punya anak mereka. Pasti dia diingatkan kakaknya. Terimakasih sudah mau menjadi anakku. Mau menerima ku sebagaimana adanya. I love you
Banyak yang di korbankan untuk hubungan kita. Banyak air mata untuk hubungan kita. Banyak kehilangan untuk mempertahankan hubungan kita. Banyak yang harus di buktikan Sampai akhirnya 13 tahun lalu Engkau menikahi ku Sekarang.... Engkau mengembalikan Kau selalu ukir senyum di bibirku Kau selalu membuat hatiku berbunga Kau selalu di sampingku. Mendukungku selalu Tak ada tuntuttan di mulutmu Kau terima apa adanya aku Terimakasih karena selalu memperjuangkanku
Komentar
Posting Komentar